Sabtu, 30 Maret 2013

Teknik "Cut to Cut" Dalam Siaran Radio

Menjadi seorang penyiar radio tentu bukan hanya sekadar bicara dan membacakan request lagu yang sudah dikirim oleh pendengar melalui sms, facebook dan twitter. Karena terkadang seorang penyiar radio haruslah informatif dengan pendengarnya, dengan memberikan info atau berita terkini sehingga ada manfaat lain yang bisa didapatkan pendengar selain menikmati lagu-lagu kesenangan mereka.

Dalam menyampaikan informasi singkat penyiar radio bisa menggunakan teknik cut to cut, yaitu memotong akhiran lagu (outro) sebelum masuk ke awalan lagu (intro) dan berbicara diantaranya. Namun sebelum melakukan cut to cut kita harus memahami bagian atau struktur lagu, berikut contohnya:

Intro-Main Lyrics-Reff-Main Lyrics-Reff-Bridge-Reff-Outro

Setelah kita paham bagian atau struktur lagu maka berikut gambaran dalam melakukan teknik cut to cut :

<Lagu 1> Intro________Outro (Penyiar Radio Berbicara) <Lagu 2>Intro________Outro

Pentingnya Siaran dengan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Radio merupakan media penyiaran yang paling dekat dengan masyarakat. Dengan harga yang murah dan kemudahan dalam menggunakannya, radio mampu menjangkau seluruh masyarakat. Mulai dari tempat yang memiliki kemampuan terbatas dalam menikmati hiburan seperti pos kamling, warung pinggir jalan dan kucingan, radio juga menjangkau tempat-tempat mewah seperti restaurant, cafe, distro, supermarket dan kantor yang megah.

Tapi akhir-akhir ini saya khawatir dengan perkembangan radio. Bukan karena jumlah pendengar radio atau lagu yang diputar untuk pendengarnya, tetapi penggunaan “bahasa” yang digunakan oleh sang penyiar. Semua radio di seluruh Indonesia sekarang ini sering menggunakan gaya yang “persis” dengan radio di Jakarta, seperti penggunaan logat dan bahasa loe - gue.

Ntah kenapa semua radio saat ini lebih suka menggunakan logat Jakarta, logat yang mereka jadikan standar supaya terkesan keren. Bahkan ada beberapa radio lokal yang memaksa siaran dengan logat Jakarta, contohnya penyiar dengan logat asli ‘medhok’ (Untuk orang Jawa) berbicara menggunakan “loe” dan “gue”, sehingga terdengar aneh di telinga. Sebenarnya apakah menggunakan bahasa Indonesia yang baik tidak bisa? Hingga memaksa harus bersiaran dengan logat Jakarta.

Dari sini pemilik media seakan dibutakan oleh tuntutan pasar dan mengejar pendengar tanpa memperdulikan bangsanya. Bahasa Indonesia yang sudah diperjuangkan sejak jaman kemerdekaan untuk bahasa persatuan dan sarat nilai sejarah dipinggirkan begitu saja, mereka seakan diam dan membiarkan logat ibu kota itu meraja lela, bahkan semakin diracuni lagi oleh gaya bahasa Alay, seperti merubah pengucapan suatu kata dengan makna yang sama, contoh kata “Semangat” diganti dengan kata “Cemungudth” dengan pengucapan sesuai ejaan.

Seharusnya media seperti radio memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. Memang setiap radio ada segment hiburan, waktu senggang, atau komedi yang disajikan, tetapi hendaknya radio juga memiliki “filter” untuk mengatasi hal tersebut. Jadi tidak setiap menit, setiap waktu dan setiap acara penyiarnya menggunakan logat Jakarta seperti elu, gue, nyokap, bokap dan yang lainnya. Terkesan seperti tidak memiliki kreatifitas saja untuk menarik banyak pendengar. Ingat, radio adalah media yang paling dekat dengan masyarakat. Apa lagi “penyiar radio”, ia adalah sosok yang paling akrab dengan pendengar sehingga gaya bahasa yang digunakan secara tidak sadar akan mempengaruhi pola pikir pendengarnya dan menganggap bahwa hal yang diucapkan oleh penyiar adalah sesuatu yang “patut ditiru” .

Bila hal ini terus terjadi dan media tak mampu memberikan filter atau tidak adanya lembaga yang memantau dan tidak ada kesadaran dari semua pihak maka yang terjadi adalah bahasa Indonesia akan semakin tidak jelas nasibnya dan bahkan yang lebih parah lagi bahasa Indonesia bisa punah ! Kalau masyarakatnya saja tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, nanti kita disebut bangsa apa? Bangsa Indonesia? Sebuah bangsa yang tidak bisa menggunakan bahasanya sendiri? Tentu kita tidak ingin semua hal itu terjadi.

Dan apakah ada solusinya? Tentu saja ada ! Dalam hal ini pemilik media radio memiliki peran penting, yaitu dengan memberikan filter pada program siarannya seperti memberikan batasan penggunaan logat Jakarta, contohnya seperti saat siaran pagi hingga siang hari menggunakan siaran berbahasa Indonesia, sore hingga malam hari menggunakan siaran berbahasa Indonesia dengan sedikit logat Jakarta.

Dalam kasus ini penulis tidak bermaksud untuk menanamkan sikap anti logat Jakarta, tapi ingin memberikan semangat bahwa kita harus bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bahasa Indonesia adalah identitas kita sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia. Tentu kita tidak mau dong disebut sebuah bangsa yang tidak bisa menggunakan bahasanya sendiri? Ayo, cintai dan gunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar !

Sejak SMA Saya Ingin Jadi Penyiar Radio

Sejak SMA saya sangat ingin menjadi penyiar radio. Waktu kelas 1 saya membranikan diri untuk mendaftar sebagai penyiar di radio lokal. Namun sayang, langkah saya terhenti karena saya harus fokus pada masa penjurusan di SMA. Padahal waktu itu saya sudah melewati ujian tulis dan wawancara dalam pendaftaran radio, bahkan sudah masuk masa training. Namun impian saya menjadi penyiar radio tidak langsung menghilang begitu saja.

Sesudah lulus SMA akhirnya saya melanjutkan study ke salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang. Pada waktu itu saya mengetahui bahwa kampus saya memiliki stasiun radio sendiri dan kebetulan sedang membuka lowongan untuk penyiar radio. Dan ini merupakan kesempatan baik yang tidak akan saya sia-sia kan ! Berbekal niat, percaya diri dan kemampuan public speaking yang saya miliki di SMA akhirnya saya mendaftarkan diri untuk melamar sebagai penyiar di radio kampus.

Untuk masuk menjadi penyiar radio ada 2 tes yang harus dilakukan, yaitu tes tulis dan wawancara. Tes yang paling susah menurut saya adalah tes tulis, terutama tentang pengetahuan musik internasional. Waktu itu ada sebuah soal yang menanyakan “Sebutkan 5 judul lagu korea yang kamu ketahui !” Ehh ya ampun !! Hahaha..saya sama sekali tidak mengenal yang namanya lagu korea. Singkat cerita, akhirnya saya lolos untuk tes tertulis dan wawancara. Rasanya senang bukan main, meskipun saya belum sepenuhnya bisa diterima sebagai penyiar radio. Pada tahap selanjutnya, yaitu tahap training, saya diajarkan Teknik Cut to Cut Dalam Siaran Radio, bagaimana menjadi penyiar radio yang baik dan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan oleh penyiar sebelum ia naik siar.

Nah karena saya sudah lelah..ditunda dulu ya tulisannya, bila ada waktu saya akan kembali menulis. Oya silahkan bila ingin mengirim kritik dan saran, terutama dalam sistematika penulisan, supaya saya bisa menulis lebih baik. Dan terima kasih sudah mau membaca ya, see you.