Jumat, 09 Mei 2014

3 Alasan Penyiar Radio Menggunakan Nama Samaran

Sebelum menjadi penyiar radio saya selalu penasaran dengan sosok yang berbicara di depan mic. Suara sang penyiar yang indah selalu membuat saya menerka-nerka “siapakah orang yang berbicara ini?”. Saya rasa tidak hanya saya, pendengar lain pun juga terkadang demikian. Bahkan saking cintanya pendengar dengan suara si penyiar ia rela menjelajahi dunia maya untuk menemukan akun sosial media nya atau “nekat” berkunjung ke studio untuk bertemu langsung dengan si penyiar, ia penasaran seperti apa rupanya. Tapi sayang, terkadang ada juga pendengar yang akhirnya gagal tidak bisa menemukan identitas si penyiar. Usut punya usut si penyiar selama siaran ternyata menggunakan nama “samaran” .

Lantas, kenapa ada penyiar yang menggunakan nama samaran? Selama saya menjadi penyiar radio saya banyak mengamati penyiar-penyiar radio di Semarang, termasuk penyiar radio ditempat saya bekerja. Beberapa dari mereka ada yang menggunakan nama asli dan nama samaran saat siaran radio. Penasaran kenapa mereka menggunakan nama samaran ? Oke saya jelaskan ya hasil pengamatan sederhana saya, yuk disimak :
  1. Karakter vokal dan gaya bicara. Contohnya bila seorang penyiar memiliki nama yang jawa banget, medhok, atau berlogat kedaerahan namun memiliki karakter vokal dan gaya bicara seperti orang Jakarta, maka ia “disarankan” menggunakan nama yang terkesan “gaul” atau secara kasar mirip nama artis lah. Dan biasanya ini kesepakatan pihak radio dengan si penyiar untuk perubahan nama. Lalu apa untungnya? Hal ini dibuat supaya pendengar memiliki imajinasi yang lebih ketika mendengar suara si penyiar dan untuk pihak radio tentu bisa menaikkan jumlah pendengar karena banyaknya fans yang tertarik dengan suara dan nama si penyiar.
  2. Tidak ingin dikenal. Perubahan nama juga bisa terjadi karena si penyiar tidak ingin nama aslinya dikenal oleh pendengar. Latar belakangnya beragam, bisa saja si penyiar merasa bahwa namanya tidak bisa “menjual”, malu dengan tetangga, atau takut dikejar-kejar fans. Pemilihan nama biasanya diserahkan secara penuh kepada penyiar, asal ia bisa bekerja dengan baik dan penuh percaya diri di depan mic.
  3. Menghindari nama ganda. Misalnya saja ada penyiar baru yang ingin menggunakan nama aslinya untuk siaran, namun tidak bisa dipakai karena ada penyiar lama yang memiliki nama yang sama dengan penyiar tersebut. Maka pihak radio menyarankan untuk menggunakan nama samaran saja, supaya tidak ada dua nama ketika siaran radio. Bisa repot kan misal ada satu nama tapi suaranya berbeda, hehehe..bisa-bisa pendengar tidak bisa menandai penyiar favorit mereka.
Nah itu tadi hasil pengamatan sederhana saya mengenai nama samaran yang digunakan penyiar radio. Ingat, tidak semua penyiar menggunakan nama samaran, ada beberapa yang menggunakan nama asli. Jadi kalau kamu sangat menggemari penyiar radio dan ingin bertemu, jangan ragu untuk terus mengejarnya, siapa tahu kamu bisa bertemu langsung dengan si penyiar. Oh iya, mungkin masih ada alasan lainnya yang belum saya ketahui, kalau pembaca ada yang tahu jangan sungkan-sungkan ya untuk menambahkan. Terima kasih sudah membaca :)

2 komentar:

  1. Hati2 juga dalam memilih nama samaran. Dulu temenku ada yg pake nama samaran, begitu dia on iar, menyebut nama samarannya dengan bangganya, tiba2 ada yang nelpon "Kak, namanya kok kayak merek kecap?". Langusng buru2 ganti nama hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama kayak merk kecap mbak ??? Hahahaha....ngga kebayang kayak gimana namanya..haha

      Hapus